Tragedi Kenduri

Selepas Sholat Isya'.. Para pemuda desa ini tanpa ada yang mengundang, selalu berkumpul dengan kompak di tepi jembatan kecil..
Entah karena sudah terbiasa cangkrukan atau hanya ingin melepas rindu pada jembatan tercintanya atau hanya untuk pelampiasan rasa galau..
Dan seperti sudah menjadi kebiasaan.. mereka selalu mengawali acara cangkrukan dengan bermain gitar dan membawakan lagu Bengawan Solo.
Lagi asyik-asyiknya menyanyikan lagu.. Pas di lirik ..'air mengalir sampai jaauuh..'
Tiba-tiba "PAK BRO" datang.. dengan gaya khas-nya "PAK BRO" mengajak mereka untuk ikut kenduri..
"Bro.. Mau gak? antum-antum ini ane ajak ikut kenduri?"
Dengan perasaan kaget bercampur bengong karena lagu Bengawan solo belum usai dinyanyikan..
Salah satu dari mereka menjawab..
Waduh "PAK BRO".. Maaf deh.. kita-kita gak terbiasa kenduri neh..
"Gampang kok bro.." jawab "PAK BRO".
Lho.. gampang gimana pak? kita aja gak ngerti.. apa saja yang akan dibaca nantinya..
"Iyaa.. gampang kok.. ikutin aja apa-apa yang ane lakukan.." Jawab "PAK BRO" lagi.
Lho? emang begitu aja pak? jawab mereka dengan semakin heran.
"Pokoknya gampang.." jawab "PAK BRO" dengan semangat dan gembira karena dia sudah mendapat pangganti beberapa orang yang gak bisa hadir.
Akhirnya merekapun dengan perasaan berat karena lagu kesayangan mereka belum sampai pada lirik terakhir dan terpaksa berangkat menghadiri acara kenduri itu.
Tapi karena kata-kata 'Gampang' dari "PAK BRO", mereka semakin yakin bahwa kenduri itu gampang.. gampang dan gampang..

Ayo berangkat! kata "PAK BRO" pada pemuda2 itu.
Para pemuda itupun menyahutnya dengan spontan.. Ayo berangkat!
Karena dalam ingatan mereka.. "..ikutin aja apa-apa yang ane lakukan.."
Sesampainya di tempat acara.. "PAK BRO" mengucapkan salam dan bersalaman dengan orang-orang yang telah hadir..
Para pemuda itupun dengan serempak mengikuti semua yang dilakukan "PAK BRO" dengan semangat..

Hingga pada pembacaan tahlil..
"PAK BRO" selalu menggunakan cara menepuk tangan untuk penggantian tiap bacaannya.
Dan untuk acara menepuk tangan ini, mereka sangat semangat dan bertepuk tangan..  
Hingga terdengar suara tepuk tangan yang sangat keras karena saking semangatnya mereka..
"PAK BRO" pun terkejut lantas berkata..
hey bro..! jangan begitu..!
Dan merekapun menjawab juga dengan semangat..
hey bro..! jangan begitu..!

"PAK BRO" akhirnya sadar bahwa semua yang dilakukannya tadi selalu diikuti para pemuda itu.
Daripada menahan rasa jengkel dan malu karena tindakan pemuda2 gaul tadi..
"PAK BRO" memutuskan untuk lari dari acara kenduri tersebut.
Tanpa memperdulikan bagaimana akhir acara kenduri itu, tanpa memperdulikan siapa yang akan memimpin bacaan doanya nanti.. karena merasa sungguh jengkel dan malu.
Dan tanpa berpikir yang aneh-aneh lagi..
Dia pun berdiri dan berlari sekencang-kencangnya tanpa mengucap sepatah kata pun..

Tanpa mengenakan sandal yang telah ditatakan dengan rapi oleh pemilik rumah.
Dengan terburu2 ia berlari keluar rumah menuju pematang sawah yang luas.
Tak lama berselang, pemuda-pemuda tadi juga berlari seperti "PAK BRO" tanpa menghiraukan sandal mereka karena dikiranya dengan berlari seperti ini adalah bagian dari acara kenduri.

"PAK BRO" pun tahu.. hingga berlaripun pemuda-pemuda itu masih mengejarnya..
Waduh..! kaifa walad-walad ini?! Sambil berlari sekencang-kencangnya..
Hingga dia memutar haluan masuk ke kebun yang gelap agar jejaknya tak telihat oleh para pemuda-pemuda tadi.
Tapi naas nasib "PAK BRO".. baru sepuluh langkah memasuki kebun, dia menabrak ranting pohon yang melintang di jalan.. 'Bruakk'
Dan tak lama kemudian terdengar 'byur..'
"PAK BRO" pun terjebur di kubangan air yang ada dekat pohon itu.
Sambil merintih kesakitan dia pun berusaha keluar dari kubangan tadi.
Dan berlari lagi dengan basah kuyup sambil menahan sakit hingga sampai di sarau.

Tampak jelas dari pematang sawah bahwa "PAK BRO" terbentur ranting pohon dan tercebur di kubangan air.
Dan pemuda2 itu juga terlihat berebut untuk berlari duluan..
Akhirnya salah satu dari mereka mengalah..
Gini aja bro.. kamu dulu aja yang duluan.

tak lama kemudian terdengar.. 'Bruakk'.. ..'Byur..'
Satu persatu mereka dengan sengaja menabrak ranting pohon dan masuk ke dalam kubangan air.
lalu lari menuju surau.

Didapatinya "PAK BRO" sudah terlentang sambil memegangi kepalanya.
Dan tiba-tiba salah satu dari mereka berkata kepada "PAK BRO".
'Aduh "PAK BRO".. maaf.. ane gak kuat kalau ikut kenduri lagi.. maaf pak..'
Satu persatu mereka pun meninggalkan "PAK BRO" yang terkapar di surau dengan basah kuyup dan memegangi kepalanya.
--tamat--