Test yang dikembangkan Binet ini kemudian disusun kembali oleh Lewis Terman, (pro-fesor bidang psikologi-Stanford University). Terman memformulasikan suatu skor nilai yang disebut sebagai IQ (Intelligent Quotient). Skor itu diperoleh dengan cara membagi umur mental seseorang (yang didapat dari test kecerdasan Binet) dengan umur sebenarnya atau umur kronologisnya.
Namun,
sejarah membawa metoda ini menyimpang jauh. Tes IQ telah mempengaruhi
masyarakat dalam memandang potensi individu. IQ dianggap satu-satunya
ukuran kemampuan seseorang dalam menghadapi hidupnya (aspek kecerdasan
sebagai problem-solving capacity). IQ dianggap sebagai satu-satunya atribut kemanusiaan yang paling berharga.
Pandangan ini juga dipengaruhi oleh teori kecerdasan yang dipelopori “sepupu” Charles Darwin, Francis Galton. Akibatnya, hingga pada
akhir abad ke-19 diyakini bahwa orang-orang yang memiliki atribut
kecerdasan ini diposisikan pada jabatan kepemim-pinan atau jabatan
strategis lainnya. Ketika itu juga di Eropa dan US, berkembang
keyakinan bahwa kecerdasan, diwariskan lewat garis keturunan. Oleh
karenanya, orang-orang yang kurang cerdas didorong agar tidak
berketurunan. Sungguh mengerikan!
Ironis!.
Gagasan baik ini telah membatasi kesempatan banyak orang hanya karena
poten-sinya tidak terukur oleh test IQ. Hal ini melahirkan gelombang
gerakan protes dari berbagai kalangan. Gerakan anti-IQ yang paling
signifikan terjadi di Inggris sekitar tahun 1960-an. Dan, pada tahun
1971 US Supreme Court
memutuskan untuk menghapuskan penggunaan test IQ untuk masalah-masalah
perekrutan dan kepegawaian, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.
Tak
kurang, Dr. Steve Hallam juga protes. Katanya, pendapat bahwa
kecerdasan manusia bagaikan angka mati dan diwariskan, adalah tidak
tepat. Penelitian Hallam menunjuk fakta bahwa kecerdasan manusia itu
hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan
hasil proses belajar.
Cakupan
kecerdasan manusia bukan hanya kecerdasan nalar, matematis dan logis.
Makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan
manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju. (Dr. Steve Hallam, Creative and leader-ship, Colloquium in Business, 2002).
Yang
perlu ditekankan bukanlah pada betapa test IQ itu kurang efektif dalam
menyeleksi orang, namun pada betapa tes ini telah membentuk konsepsi
diri manusia yang parsial dan reduksionistik. Barangkali akan lain
halnya, jika metoda test kecerdasan IQ ini muncul dalam masyarakat yang
mampu memandang potensi manusia secara utuh. Besar kemungkinan gagasan
IQ ini akan memberikan kontribusi yang positif.
Meski
respon kritis atas kecerdasan berbasis IQ ini telah muncul sejak awal
kelahirannya, namun baru satu dekade akhir abad ini kita mengenal suatu
rumusan-psikologi populer yang mengemas kontribusi para peneliti
sebelumnya dengan cukup baik, yaitu kecerdasan emosi.
No comments:
Post a Comment